Dilarang Gelar Ujian Baca Tulis

Posted: 19 Februari 2011 in Artikel, Berita
Tag:, , ,

Melakukan Dianggap Langgar Kurikulum PAUD

JAKARTA – Kemendiknas melarang keras kepala sekolah melakukan tes terhadap calon siswa yang akan masuk sekolah dasar. Hal itu sesuai dengan Surat Edaran (SE) Ditjen Dikdasmen Nomor 1839/C/C2/TU/2009 yang mengatur tentang kriteria calon peserta didik tingkat SD/MI di seluruh kabupaten/kota.

Wakil Mendiknas Fasli Jalal menegaskan, pemerintah daerah wajib mengawasi penerimaan siswa baru tingkat SD. Termasuk memberikan sanksi tegas terhadap sekolah yang melakukan tes masuk SD. “Dalam SE saja sudah jelas. Tentu daerah harus mematuhi dan menerapkan sanksi yang dikenakan.” Ujar Fasli setelah menerima bantuan puluhan ribu papan tulis dan piano untuk SD di kantornya kemarin (8/6).

Menurut dia, penggunaan tes menulis dan membaca untuk calon siswa SD dianggap melanggar kurikulum pendidikan anak usia dini (PAUD). Dengan usia 6 tahun, calon siswa seharusnya tidak dipaksakan untuk bisa menulis dan membaca. “Sebab, dalam dunia mereka, bermain itu segala-galanya,” papar Fasli.

Untuk mengungkapkan bahwa pada usia anak di bawah 7 tahun, kecerdasan berhitung dan mengenal huruf dianggap sebagai bonus dari proses bermain mereka. “Seandainya memang bisa berhitung dan membaca, itu bukan karena dipaksa,” paparnya.

Prinsip PAUD, menurut Fasli, adalah kecerdasan menulis dan membaca itu seharusnya didapatkan anak-anak saat mereka bermain. Dia mengatakan, larangan menggunakan tes menulis dan membaca itu sebagai dasar untuk menentukan mereka masuk ke sekolah tertentu. “Jika alasannya karena belum dapat bersosialisasi, itu bisa dimaklumi,” tandasnya. Sosialisasi itu, kata dia, bisa dijadikan pertimbangan sekolah untuk menerima siswa. Jika siswa tersebut dianggap belum bisa bersosialisasi dengan teman dan sekolahnya, kata Fasli, sekolah bisa saja menolak. “Itu salah satu syarat sebagai kesiapan untuk masuk sekolah, meski usianya telah mencukupi untuk bisa sekolah,” jelas Dirjen Dikti itu.

Fasli mengatakan bahwa salah satu yang menjadi prioritas siswa untuk diterima adalah faktor usia. Dia menyarankan, siswa yang sudah berusia tujuh tahun lebih diprioritaskan bisa masuk sekolah. “Sisanya bisa diambil dari siswa yang berusia di bawah tujuh tahun. Sekali lagi, bukan karena sudah bisa membaca dan menulis,” tegasnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s