Cici, Si Anak Ayam Penakluk

Posted: 11 Maret 2011 in Cerita Anak
Tag:,

Cici  adalah seekor anak ayam yang pemberani. Dia tidak pernah takut pada mahluk apa pun. Hal itu tentu saja sering membuat khawatir kedua orang tuanya. Cici suka sekali permainan yang penuh tantangan, seperti menyeberangi sungai, mendaki bukit, memanjat pohon, dan lain-lain. Walaupun memiliki tubuh yang kecil, tapi tubuh Cici termasuk kuat.

Pada suatu hari, di kampung tempat Cici tinggal diserang oleh seekor ular Pythom. Ular itu sudah memakan beberapa ekor ayam di kampung Cici. Tidak ada satu ekor ayam pun yang berani menghadapi ular besar itu. Ayam memang bukan lawan yang sepadan bagi seekor ular Pyton. Hanya ada satu ekor ayam (tepatnya anak ayam) yang tidak takut pada ular Pyton itu, dia adalah Cici.

Di hadapan teman-temannya, Cici berpidato supaya mereka jangan takut. Cici memberi semangat kepada temen-temannya, agar mau melawan ular Pyton yang besar itu. Cici yakin, pasti ada cara yang untuk mengalahkan ular besar itu. Namun teman-teman Cici malah menganggap Cici sudah gila atau stress, sehingga tidak ada satu ekor temanpun yang mau mendengarkan Cici.

Di dalam kesendirian, Cici merenung. Dia terus mencari cara yang terbaik untuk mengalahkan ular besar itu. Dia ingin membuktikan kepada teman-temannya kalau seekor ayam pun bisa mengalahkan seekor ular. Dia tentu saja juga ingin membuktikan kalau dirinya tidak gila.

Saat berjalan-jalan di sekitar kampung, Cici melihat sebuah benda berkilauan terbuat dari besi. Benda itu adalah jarum. Pepe senang sekali menemukam sebuah jarum, karena dia bisa menggunakannya sebagai senjata untuk melawan ular itu. Namun jarum tersebut begitu pendek, sehingga hampir tidak mungkin untuk menusuk ular yang memiliki tubuh yang sangat panjang.

Cici lalu merenung kembali. Dia ingin menemukan cara mengalahkan ular besar itu dengan jarum. Pada saat itu, Cici mulai mengingat kembali sebuah kejadian pada saat ular itu menyerang 3 hari yang lalu. Hari itu adalah hari terakhir ular itu menyerang kampung Cici, dan tentu saja beberapa minggu lagi ular itu akan kembali.

Pada saat itu Cici bersembunyi di atas pohon, karena memanjat pohon adalah salah satu keahlian Cici. Cici bisa melihat jelas pada saat ular itu menelan tubuh Paman Peto hidup-hidup. Di dalam tubuh ular itu, bisa terlihat dengan jelas bila Paman Peto masih bisa bergerak, walaupun lama kelamaan gerakan-gerakan itu berhenti.

Kemudian tumbuhlah semangat baru di dalam hati Cici untuk melawan ular Pyton itu. Dengan bersenjatakan jarum kesayangannya, Cici ingin sekali mengalahkan ular itu.

Setiap hari Cici berjaga-jaga di hutan. Terkadang Cici berjalan sambil mengayunkan jarumnya untuk melatih kekuatan tangannya. Dia tidak peduli dengan keselamatannya sendiri. Banyak teman-temannya menertawakan Cici yang seperti ayam gila, karena Cici berjalan bolak-balik tak tentu arah. Namun Cici tidak mempedulikan kata-kata mereka. Cici akan melakukan apa pun demi keselamatan keluarganya dan semua teman-temannya.

Tidak lama kemudian, terdengarlah teriakan ayam-ayam dari kampung Cici bagian utara. Semua teman-teman Cici berlari ke arah selatan untuk mencari tempat yang amam. Berbeda dengan Cici, dia justru dengan cepat berlari ke arah utara untuk menghadapi ular besar itu.

Pada saat itu, Cici melihat ada seekor ayam betina kecil terpojok diantara batu-batu besar. Ular Pyton itu tepat di depan ayam kecil itu. Ayam kecil itu bernama Pipi. Pipi terlihat sangat ketakutan. Lalu Cici segera bergerak ke arah Pipi untuk melindunginya. Cici kini berada di dekat Pipi. Cici berbisik kepada Pipi,”Pipi, setelah aku menantang ular itu, kamu harus segera berlari. Kamu jangan melihat ke arahku. Teruslah berlari dan mencari tempat yang aman. “

Mendengarkan bisikan Cici, Pipi hanya menganggukkan kepalanya. Tidak lama kemudian, Cici segera mendekati ular itu dan menantangnya,”Ayo kalau berani… Makanlah aku… Aku tidak takut padamu!”

Ular itu sangat heran, karena baru pertama kalinya ada seekor ayam, apalagi anak ayam, yang berani menantangnya. Pada saat itulah, Pipi tidak mau melewatkan kesempatan untuk melarikan diri. Ular itu kembali melihat ke arah Pipi yang melarikan diri. Namun dengan cepat Cici berkata lagi,”Hei Tuan Cacing… Jangan hiraukan dia. Dia hanyalah ayam betina kecil yang tidak berdaya. Sekarang…. Lawanlah aku!!! Seekor cacing seperti kamu adalah makanan kesukaanku!”

Ular besar itu pun kembali memandang Cici. Cici telah bersiap melawan ular itu dengan sebuah jarum yang dia sembunyikan diatara bulu-bulu lembutnya. Tanpa memakan waktu lama, ular besar itu pun segera menyambar tubuh kecil Cici dan menelannya.

Setelah menelan tubuh Cici, ular besar itu segera mengejar Pipi yang jaraknya belum terlalu jauh. Pipi sudah berlari secepat mungkin, namun ular itu bergerak dengan cepat pula. Pada saat berlari, Pipi terjatuh karena kakinya tersangkut semak belukar. Ular itu pun segera mendekati Pipi yang sudah tampak kelelahan. Pada saat ular itu bersiap untuk menyerang Pipi, tiba-tiba saja ular itu meronta-ronta kesakitan. Gerakan tubuhnya menjadi tidak beraturan, dan akhirnya mati.

Pipi dalam keadaan takut, hanya berdiri kaku melihat kejadian itu. Lalu dia mencoba melangkahkan kakinya, dan mendekati ular besar yang sudah tidak berdaya itu. Pada saat itulah, Pipi melihat Cici dengan tubuh bersimbah darah. Ternyata Cici telah berhasil keluar dari tubuh ular itu. Dia menyobek perut ular itu dengan sebuah jarum kecil. Karena kelelahan, Cici pun akhirnya pingsan.

Pada saat Cici terbangun, Cici sudah disambut oleh beratus unggas penghuni hutan. Cici dianggap sebagai pahlawan oleh para unggas. Pesta besar telah diadakan untuk menyambut seekor pahlawan besar. Sejak saat itu, ayam dan unggas lainnya tidak lagi takut melawan ular. Bahkan banyak sekali ayam terlatih yang sudah dipersiapkan untuk melawan para pemangsa. Keberanian Cici kecil telah mengobarkan semangat beratus-ratus unggas penghuni hutan.

Pesan Moral:

Bernai dan percaya diri agar mimpi dapat tercapai.
Sebuah Hal sederhana bisa memberikan pengaruh yang besar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s